Let's Chat
Wisata Sejarah di Malang

10 Wisata Sejarah di Malang Yang Populer dan Punya Spot Foto Keren!

Wisata Sejarah di Malang – Malang menawarkan berbagai pilihan destinasi wisata yang menarik, termasuk salah satunya adalah tempat-tempat bersejarah yang patut dikunjungi. Di kota ini, Anda dapat menelusuri jejak-jejak sejarah yang menarik dan mempunyai spot-spot foto yang keren.

Di Malang mulai dari museum, candi, dan bangunan bersejarah yang menarik, tempat-tempat ini menjadi destinasi wisata sejarah yang diminati. Menjelajahi warisan sejarah di Malang tidak hanya menyenangkan tetapi juga memberikan pengalaman edukatif. Yuk, simak ulasannya untuk mengetahui tempat-tempat wisata sejarah di Malang!

10 Wisata Sejarah di Malang

Museum Mpu Purwa

Museum Mpu Purwa berlokasi di Jalan Soekarno Hatta No 210, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Fungsinya sebagai pusat pembelajaran praktis.

Di dalamnya, Museum Mpu Purwa menampilkan koleksi benda-benda dari masa pra-sejarah hingga era Hindu-Buddha.

Museum Mpu Purwa, dengan luas sekitar 1.200 meter persegi, menampung sekitar 136 artefak bersejarah dari kerajaan Jawa kuno. Benda-benda bersejarah ini mencakup warisan dari Kerajaan Kanjuruhan, Mataram Kuno, Kediri, Singosari, dan Majapahit.

Koleksi ini melibatkan prasasti, arca, makara, lingga, dan berbagai benda pubakala lainnya. Selain itu, terdapat juga peninggalan pra-sejarah seperti Batu Pelor, Batu Lumpang, dan Batu Gores.

Bagi pengunjung yang ingin menikmati koleksi Museum Mpu Purwa, tidak ada biaya masuk, karena museum ini dikelola oleh Pemerintah Kota Malang. Museum buka setiap hari Selasa-Minggu, mulai pukul 08.30 hingga 15.00 WIB, kecuali Jumat yang beroperasi hingga pukul 14.00 WIB. Museum tutup pada hari besar dan tanggal merah.

Museum Singhasari

Museum Singhasari berlokasi di Perumahan Singhasari Residence, Klampok Village, Singosari Subdistrict, Malang Regency, East Java. Koleksi museum ini melibatkan peninggalan dari Kerajaan Singosari, dan didirikan di atas lahan hibah dari pemilik Perumahan Singhasari Residence.

Pemilikan museum berada di bawah Pemerintah Kabupaten Malang dan dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang. Luas Museum Singhasari mencapai sekitar 3.000 meter persegi, dengan koleksi sekitar 345 artefak bersejarah, termasuk benda-benda dari kayu, logam, dan batu. Artefak tersebut mencakup arca Mahakal, Mahisha, Durga gaya Singosari, Ganesha, dan Prajna Paramita.

Pengunjung dapat menikmati koleksi Museum Singhasari tanpa biaya masuk alias gratis. Jam operasional museum adalah setiap hari dari pukul 08.00 hingga 20.00 WIB.

Indonesian Old Cinema Museum

Museum Sinema Lawas Indonesia menjadi salah satu destinasi unik di Kota Malang, terletak di kompleks Rumah Makan Ringin Asri, Jl. Soekarno-Hatta No. 45, sekitar 5 menit perjalanan dari Universitas Brawijaya. Pendiri museum ini adalah Drs. Hariadi, pemilik rumah makan tersebut, yang sebelumnya sukses sebagai pengusaha layar tancap di Jawa Timur.

Dengan luas bangunan mencapai 4.000 meter persegi, museum ini memiliki satu ruangan dengan layar dan bangku-bangku di bagian belakang. Koleksi-koleksi yang dipamerkan merupakan koleksi pribadi tanpa bantuan dari pemerintah daerah, namun hal ini justru menjadi daya tarik utama Indonesian Old Cinema Museum. Meskipun bersifat pribadi, koleksi seperti poster-poster dan lainnya cukup lengkap.

Museum ini memiliki 45 proyektor yang menampilkan film-film yang viral pada masanya. Meskipun bertahun-tahun, proyektor tersebut masih dapat berfungsi jika ada pengunjung yang ingin mencoba memutar film nasional di sana.

Monumen Juang 45

Monumen Juang 45 di Kabupaten Klaten merupakan salah satu simbol terkenal. Monumen ini terletak di Jalan Veteran, bagian dari kompleks Gedung Olah Raga (GOR) Gelar Sena Desa Jonggrangan, Sangkal Putung, Kecamatan Klaten Utara, Jawa Tengah.

Tujuan pembangunan monumen ini adalah sebagai tanda penghargaan terhadap perjuangan besar dan pengabdian masyarakat Klaten, serta seluruh bangsa Indonesia, di medan perang dalam membela tanah air. Ciri fisik Monumen Juang 45 Klaten mencakup sebuah patung gagah dengan latar belakang lambang Garuda Pancasila.

Kayutangan Heritage

Kajoetangan Heritage, yang akrab dikenal sebagai Kayutangan Heritage, terletak di pusat Kota Malang, berdekatan dengan Balai Kota dan alun-alun Kota Malang. Lokasinya di Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, merupakan kampung tua yang telah ada sejak abad ke-13.

Warisan masa kolonial yang masih terlihat di Kayutangan mencakup rumah-rumah bersejarah yang memiliki nilai estetika dan sejarah, menjadikannya sebagai potensi wisata yang menarik. Kampung ini memelihara rumah-rumah kuno dengan baik, mengingatkan pada kejayaan masa lalu.

Untuk masuk ke kawasan kampung, dikenakan biaya sebesar Rp.5.000,00 per orang, dengan bonus mendapatkan 1 lembar foto rumah-rumah peninggalan kolonial.

Klenteng Eng An Kiong

Klenteng Eng An Kiong berlokasi di Jalan Laksamana Martadinata No 1, Kota Malang, Jawa Timur. Merupakan salah satu struktur tertua di Kota Malang yang diakui sebagai bangunan bersejarah.

Sebagai klenteng Tridarma, Klenteng Eng An Kiong dipergunakan untuk kegiatan ibadah yang melibatkan tiga kepercayaan, yaitu Khonghucu, Taoisme, dan Buddha. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, klenteng ini juga menjadi destinasi wisata.

Masjid Bungkuk

Masjid yang berdiri di Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, adalah masjid tertua di wilayah tersebut.

Bangunan tersebut menjadi lambang penyebaran agama Islam di sekitar daerahnya dan didirikan oleh Kiai Hamimuddin, yang juga dikenal sebagai Mbah Bungkuk. Kiai Hamimuddin merupakan anggota Laskar Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa dan singgah di kawasan Singosari.

Candi Singosari

Candi Singosari, terletak di Malang, merupakan destinasi wisata sejarah yang juga menarik untuk wisata kekinian karena cukup aesthetic untuk dijadikan spot foto. Dibangun sekitar tahun 1300 Masehi, Candi Singasari dihadirkan sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Kertanegara yang gugur karena pengkhianatan oleh Jayakatwang, anak buahnya.

Tempat wisata sejarah ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 16.00, dan tidak dikenakan biaya masuk alias gratis, memberikan pengalaman wisata yang terjangkau.

Candi Jago

Candi Jago, yang terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, berjarak 22 kilometer ke arah timur dari Kota Malang. Karena berada di Desa Tumpang, sering juga dikenal sebagai Candi Tumpang, atau disebut sebagai Cungkup oleh penduduk setempat.

Candi ini, dianggap suci, merupakan hasil pembangunan Raja ke-4 Singhasari, Raja Kartanegara, sebagai bentuk penghormatan kepada ayahnya. Penemuan pertama kali dilakukan oleh Belanda pada tahun 1834. Menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, sebenarnya nama candi ini adalah Jajaghu, yang berarti ‘keagungan’, merupakan istilah yang merujuk pada tempat suci.

Baca Juga: Camilan Oleh-Oleh Malang Terenak

Kawasan Ijen

Jalan Idjen Boulevard atau Jalan Ijen, yang terletak di Kota Malang, Jawa Timur, merupakan salah satu jalan protokol yang menyaksikan kesibukan lalu lintas dan aktivitas warga setempat. Keindahan dan ikoniknya jalan ini terwujud dalam deretan pohon palem yang tertata rapi dan memberikan rindang.

Hingga saat ini, Kawasan Ijen tetap menjadi destinasi wisata favorit di Kota Malang, menarik pelancong dengan nilai sejarah yang besar terkait perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Sebab, kawasan Ijen menjadi salah satu daerah yang dulu dikuasai oleh Belanda.

Di sepanjang Jalan Ijen, berbagai bangunan kuno dengan arsitektur bergaya Belanda masih dapat ditemukan, dijaga dan dipertahankan hingga saat ini. Bangunan-bangunan ini sebelumnya digunakan sebagai tempat tinggal oleh pejabat Hindia Belanda pada masa kolonial.

Itulah daftar 19 wisata sejarah di Malang yang populer dan mempunyai spot-spot foto menarik. Dari ulasan tersebut, tempat wisata mana yang akan kamu datangi terlebih dulu?

Setelah berwisata sejarah di Malang akan lebih lengkap dengan membawa pulang oleh-oleh khas dari kota ini. Kamu dapat mendatangi pusat oleh-oleh yang di Malang yang lengkap dan terkenal yaitu Pia Cap Mangkok. Selamat berwisata sejarah!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja
Scroll to Top