Let's Chat
Hanbok Pakaian Tradisional Korea

Pernah Mencoba Hanbok Pakaian Tradisional Korea? Cobain di MOG Malang

Hanbok Pakaian Tradisional Korea – Baju Hanbok merupakan pakaian tradisional Korea Selatan yang sudah dikenal sejak masa Dinasti Joseon. Umumnya berwarna cerah, dengan desain garis yang sederhana dan tanpa saku.

Mengingatkan pada gaun panjang berwarna-warni yang sering dikenakan oleh aktris Korea seperti Jang Geum dalam drama Jewel of the Palace, Hae Soo dalam drama Scarlet Heart: Ryeo, dan Wol Ju dalam drama Mystic Pop Up Bar.

Pada masa kini, Hanbok hanya digunakan dalam momen formal atau semi-formal pada perayaan tradisional, termasuk acara pernikahan, ulang tahun pertama (dol janchi), hari panen raya (chuseok), hari raya imlek (soella), dan acara serupa lainnya.

Mengenal Hanbok Pakaian Tradisional Korea

Hanbok, yang akrab disebut sebagai pakaian tradisional Korea, berasal dari penggabungan dua kata, yaitu Han yang merujuk pada Korea dan Bok yang berarti Baju. Sebagai pakaian adat, Hanbok telah melalui perjalanan yang panjang dalam menggambarkan kebudayaan Korea.

Dari zaman kuno, Semenanjung Korea telah terpengaruh oleh budaya Scythian, kelompok nomaden yang tinggal di wilayah Scythia di Eurasia. Pengaruh ini membentuk Hanbok dengan dua bagian terpisah, yakni atasan dan bawahan. Meskipun bentuk dasarnya tetap tidak berubah sejak dulu, desain dan bentuknya terus berkembang seiring perubahan dalam kebudayaan.

Perkembangan Hanbok dari Masa ke Masa

Sebelum era modernisasi seperti sekarang, desain dan bentuk Hanbok mengalami perkembangan yang terlihat melalui variasi desainnya di setiap periode kerajaan di Korea Selatan.

Pada Tiga Masa Kerajaan (57 SM-668 M)

Pada masa Tiga Kerajaan, yaitu Kerajaan Baekje, Silla, dan Goguryeo di Korea, diketahui bahwa elemen dasar Hanbok seperti jeogori (baju), baji (celana), dan chima (rok) diyakini sudah lama menjadi bagian dari busana tradisional.

Walaupun begitu, selama periode Tiga Kerajaan, Hanbok mengalami perkembangan. Pada awalnya, baik laki-laki maupun perempuan mengenakan baju berukuran sepinggang dan celana panjang yang ketat. Namun, menjelang akhir periode Tiga Kerajaan, perempuan bangsawan mulai mengenakan rok panjang, baju berukuran sepinggang yang diikat di pinggang, dan celana yang lebih longgar. Mereka juga umumnya memakai jubah seukuran pinggang.

Pada Masa Dinasti Goryeo (918-1392)

Transformasi Hanbok pada masa Dinasti Goryeo terjadi ketika terjadi perjanjian damai dengan Kerajaan Mongol, yang juga diikuti dengan pernikahan antara Raja Goryeo dan Ratu Mongol.

Hasil dari peristiwa tersebut, busana para orang yang bekerja di kerajaan Goryeo mengikuti gaya Mongol. Pengaruh ini menyebabkan perubahan pada Hanbok, di mana bagian rok menjadi lebih pendek, pakaian diikat ke bagian dada dengan pita lebar, dan desain lengan bajunya menjadi lebih ramping.

Pada Masa Dinasti Joseon (1392 -1897)

Selama pemerintahan Dinasti Joseon, bagian baju (jeogori) pada Hanbok secara bertahap mengalami perubahan menjadi lebih ketat dan pendek. Pada abad ke-16, bagian tersebut kembali diubah menjadi sedikit menggelembung dan panjangnya mencapai bagian bawah pinggang.

Pada akhir abad ke-19, diperkenalkan magoja, yakni jaket bergaya Manchu yang masih umum digunakan oleh masyarakat Korea hingga saat ini. Menuju akhir masa Dinasti Joseon, model rok (chima) menjadi lebih panjang, sementara bagian jeogori menjadi lebih pendek dan ketat.

Selain itu, ditambahkan heoritti atau heorimari, yang terbuat dari kain linen sebagai korset karena pendeknya jeogori pada waktu itu.

Hanbok Masa Kini

Modernisasi saat ini berpengaruh pada desain Hanbok masa kini, dengan pembaruan yang mencampurkan pengaruh Barat sambil tetap mempertahankan elemen dasar Hanbok tradisional seperti panjang rok dan celana, jenis kain, pola, warna, serta hiasan atau aksesorisnya.

Meskipun demikian, Hanbok masih dihasilkan dengan memegang teguh nilai, pesan, dan semangat tradisional Korea. Dahulu, warna Hanbok mencerminkan status sosial dan pernikahan seseorang, meskipun saat ini hal tersebut tidak begitu diperhatikan.

Itulah sejarah Hanbok atau pakaian tradisional Korea Selatan. Menariknya, Hanbok tidak hanya merujuk pada gaun panjang wanita Korea zaman dulu, tapi juga pada pakaian yang dikenakan oleh pria pada masa itu. Selanjutnya berikut 7 fakta menarik tentang Hanbok!

7 fakta menarik Hanbok Pakaian Tradisional Korea

Sudah Ada Sejak tahun 18 SM

Hanbok telah ada sejak tahun 18 SM pada masa tiga kerajaan terkenal Korea, yaitu Kerajaan Baekje, Kerajaan Goguryeo, dan Kerajaan Silla. Gaya Hanbok pada masa Kerajaan Silla dipengaruhi oleh mode dari Cina, dengan pakaian Hanbok pria berupa jaket panjang yang melingkupi celana panjang.

Sementara itu, Hanbok untuk wanita juga termasuk jaket panjang yang menutupi sebagian besar rok bawah.

Bagian-bagian Hanbok

Hanbok terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu bagian atas yang biasa disebut jeogori, dan bagian bawah untuk pria berupa celana longgar yang disebut baji, serta untuk wanita berupa rok panjang yang disebut chima.

Bagian jeogori pada Hanbok wanita dilengkapi dengan dua tali yang kemudian diikat menjadi pita, dikenal dengan sebutan goreum. Sepatu yang digunakan oleh pria dan wanita terbuat dari kain sutra dan disebut kkotsin.

Warna Hanbok dan Status Sosial

Menurut Korean Cultural Centre, raja, terutama pada masa pemerintahan kerajaan Baekje, sering mengenakan warna ungu violet, yang juga umum digunakan oleh bangsawan.

Wanita kelas menengah atas memilih Hanbok dengan warna cerah dan penuh semangat, sedangkan mereka yang baru melahirkan anak laki-laki cenderung mengenakan jeogori dengan warna biru navy. Wanita yang belum menikah, pada umumnya, memilih Hanbok dengan warna kuning.

Motif Hanbok mencerminkan harapan pemakainya

Motif atau corak pada kain Hanbok mencerminkan harapan dari pemakainya. Sebagai contoh, Hanbok berwarna merah yang sering dikenakan oleh pengantin, dengan motif bunga Peoni, melambangkan kekayaan dan kebanggaan.

Sementara itu, Hanbok merah dengan motif buah delima mencerminkan harapan akan kesuburan. Motif naga dan burung feniks biasanya dikenakan oleh golongan bangsawan dan individu yang memiliki kekuasaan di pemerintahan.

Desain Unik

Karakteristik utama Hanbok adalah strukturnya yang mirip dengan lonceng, dimana bagian atasnya ramping dan melebar ke bagian bawah.

Desain yang melebar dan memberikan kesan mengalir saat pengguna berjalan membuat gaya Hanbok secara keseluruhan terlihat indah dan unik dibandingkan dengan pakaian tradisional dari negara-negara lain.

Dikenalkan Presiden Park Geun-Hye

Peran Presiden Park Geun-Hye sangat penting dalam memperkenalkan Hanbok baik di dalam maupun di luar negeri. Dalam wawancaranya, beliau menyatakan bahwa dia tidak pernah merasa bosan dalam mempromosikan keindahan budaya Korea dan Hanbok ketika melakukan kunjungan ke luar negeri. Upaya beliau juga ditujukan untuk mendorong orang-orang yang bekerja dalam industri Hanbok agar lebih aktif dalam mengembangkan busana tradisional tersebut.

Baca Juga: Wisata Sejarah di Malang

Bisa Dicoba di MOG Malang

Piata Camilan di MOG Malang menawarkan pengalaman unik bagi pengunjung yang ingin mengeksploras berbagai kuliner Korea. Salah satu yang terbaru adalah para pengunjung dapat mencoba berpakaian Hanbok yang disediakan. Dengan begitu pengunjung dapat mencoba berbagai varian camilan dari berbagai negara, termasuk khas oleh-oleh Malang sambil mencoba keindahan dan keunikan Hanbok, pakaian tradisional Korea.

Dengan suasana yang ramai dan penuh warna, Piata Camilan memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk mencicipi kelezatan kuliner Korea sambil berfoto dengan Hanbok yang tersedia. Selamat Mencoba!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja
Scroll to Top